Anak dan Teknologi

I fear the day that technology will surpass our human interaction. The world will have a generation of idiot" - Albert Einstein



Akhir-akhir ini teknologi berkembang dengan sangat pesat. Semua hal menjadi serba praktis, mudah, dan cepat. Arus informasi mengalir dari segala arah secepat kilat. Sayangnya, hal ini sekaligus membawa pengaruh buruk bagi kehidupan manusia. Kecanggihan teknologi telah melenakan manusia modern sehingga mengalami kecanduan yang berakibat pada berkurangnya produktivitas, sulit berkonsentrasi, cuek terhadap lingkungan sekitarnya, serta enggan melakukan aktivitas fisik. Belum lagi masalah konten kekerasan dan pornografi yang dapat dengan mudahnya kita akses. Jika pada orang dewasa penggunaan teknologi secara tidak arif dapat membawa efek buruk, lalu bagaimana jika anak-anak harus berhadapan dengan teknologi?



Kecanduan teknologi mengancam masa depan anak-anak

Orang tua jaman sekarang memiliki banyak opsi untuk memberikan pendidikan dan hiburan kepada anak-anaknya. Banyak yang memilih jalan mudah dengan memberikan anak akses bebas terhadap teknologi. Ketika anak menangis dihibur dengan video di gadget, ketika anak bosan disuruh memainkan permainan di gadget, dan masih banyak contoh kecil lainnya. Padahal, anak yang terpapar hiburan melalui layar atau screen entertainment (televisi, handphone, tablet, personal computer, dll) lebih dari 2,7 jam perhari akan lebih mudah terserang stress, meski anak dan orangtua tidak menyadarinya. Efek yang lebih parah terjadi pada penggunaan video games yang berlebihan. Anak yang setiap hari bermain video games lebih dari satu jam akan lebih beresiko terkena ADHD (Atention Deficit and Hyperactivity Disorder). Anak berusia kurang dari dua tahun tidak direkomendasikan terpapar screen entertainment sama sekali.

Anak yang terbiasa melihat, mendengar dan merasakan sensasi kekerasan melalui media televisi, film, video games, musik, komik maupun sumber lainnya, akan cenderung memiliki pikiran dan perilaku agresif, mudah marah, meningkatnya detak jantung dan tekanan darah, serta kurang peka terhadap lingkungan. Efek ini juga terjadi pada orang dewasa, namun hanya bersifat jangka pendek. Sebaliknya, pada anak efek ini akan bersifat jangka panjang dan berpotensi membentuk karakter anak. Hal yang sama juga berlaku pada konten-konten pornografi yang banyak terdapat dalam paket hiburan berbasis teknologi.  Anak yang terpapar pornografi akan cenderung menirukan perilaku yang ia lihat.


Jangan salahkan perkembangan jaman

Kecanduan anak terhadap teknologi hingga berakibat pada berubahnya perilaku anak tentu bukanlah kesalahan dari teknologi itu sendiri. Ada banyak hal yang mendorong seorang anak menjadi pecandu gadget. Hal-hal tersebut adalah lingkungan fisik, lingkungan psikis, lingkungan sosial, dan juga lingkungan spiritual.

1. Lingkungan fisik
Penataan ruang dan perabotan di dalam rumah, termasuk di antaranya peletakan televisi, komputer, laptop, dan gadget lainnya, ikut berkontribusi pada intensitas interaksi anak dengan sumber-sumber screen entertainment tersebut. Kita perlu mengatur fasilitas apa saja yang kita sediakan di rumah, termasuk juga memperhatikan bagaimana kemudahan akses anak terhadap fasilitas-fasilitas tersebut.

2. Lingkungan psikis
Kedekatan antara orang tua dan anak serta pola asuh yang orang tua terapkan akan berpengaruh langsung terhadap perkembangan anak. Hubungan antara ayah dan ibu juga turut membentuk lingkungan psikis yang sangat berpengaruh pada tumbuh kembang anak. Lingkungan psikis ini harus dijaga agar senantiasa positif bagi anak, sehingga anak bisa terhindar dari kecanduan gadget.

3. Lingkungan sosial
Teman, budaya, dan kebiasaan di lingkungan sekitar tempat anak berkegiatan juga memiliki peran penting dalam pembentukan pola kebiasaan bahkan hingga karakter anak. Kita perlu memperhatikan siapa teman anak-anak, termasuk juga pola asuh yang diterapkan oleh orang tua teman-teman anak.

4. Lingkungan spiritual
Keyakinan yang matang dan tangguh adalah satu hal yang akan mampu membentengi anak dari pengaruh-pengaruh negatif di sekitarnya. Maka, kita harus berupaya keras untuk dapat membangun keyakinan dalam diri anak sehingga ia mampu membentengi dirinya sendiri dari ancaman dan pengaruh buruk di sekitarnya.


Menjadi orang tua di era teknologi

Siap tidak siap, suka tidak suka, teknologi akan terus berkembang. Mengasuh anak menjadi semakin menantang bagi orang tua. Ada beberapa hal yang bisa menjadi pedoman bagi orang tua dalam merumuskan pola asuh anak di era ini, yaitu kontrol, keseimbangan, role model, teman baik, dan pendidikan moral-agama.

Untuk meminimalisir efek buruk teknologi pada anak, maka orang tua seyogyanya melakukan kontrol pada interaksi anak dan teknologi. Kontrol ini berupa aturan mengenai kapan, di mana, serta berapa lama anak bisa menggunakan teknologi. Orang tua juga harus memastikan bahwa data atau informasi yang tidak layak dikonsumsi oleh anak tersimpan secara aman, bisa dengan cara memasang password atau memblokir situs-situs tertentu. Berhati-hati pula jika anak memainkan gadget lungsuran atau bekas pakai orang dewasa. Pastikan bahwa gadget tersebut bersih dari hal-hal yang tidak kita inginkan dikonsumsi oleh anak-anak. Orang tua juga disarankan untuk senantiasa mencari tau apa yang anak lihat dan lakukan dengan perangkat teknologi tersebut.

Upayakan teknologi tidak menjadi satu-satunya media hiburan di rumah. Orang tua sebaiknya mencari alternatif kegiatan lain yang dapat menarik minat dan perhatian anak, sehingga anak-anak tidak melulu terfokus pada perangkat teknologi saja. Mengatur aktivitas anak dengan cara membuat jadwal anak secara terperinci juga penting untuk menciptakan keseimbangan dalam kehidupan anak. Kegiatan yang dimasukkan dalam jadwal harian adalah kegiatan-kegiatan sederhana yang sesuai dengan tujuan akhir pendidikan anak masing-masing keluarga.

Anak adalah peniru yang ulung. Ungkapan bahwa "satu teladan lebih baik dari seribu nasihat" adalah benar adanya. Kita tidak bisa memberitahu anak sesuatu hal tanpa kita sendiri menjadi contoh, termasuk terkait dengan persoalan teknologi ini. Maka orang tua yang baik harus mampu menjadi role model bagi anak-anaknya. Ketika kita ingin membatasi interaksi anak-anak dengan perangkat teknologi demi melindungi perilaku dan karakternya di masa depan, maka kita harus berkomitmen pula untuk mengurangi penggunaan teknologi di rumah, setidaknya di depan anak-anak. Kita juga harus menerapkan kontrol yang sama pada diri kita sendiri. Buat aturan jelas mengenai kapan, berapa lama, dan di mana orang tua menggunakan teknologi. Luangkan waktu dalam sehari tanpa interupsi perangkat teknologi apapun untuk fokus bersama anak.

Agar anak merasa nyaman, berusahalan untuk menjadi teman baik anak. Hal ini juga akan memudahkan kita untuk dapat membangun komunikasi dan menanamkan nilai-nilai pada anak. Libatkan diri kita dalam aktivitas-aktivitas anak, bersikap open mind, dan juga mengenali anak dengan sangat baik (tipe kepribadiannya, apa yang dia sukai, potensinya, gaya belajarnya, teman-temannya serta tahapan perkembangannya) merupakan bagian dari upaya menjadi teman baik anak. Jangan lupa bahwa secanggih apapun teknologi yang kita siapkan dan seberapa banyak fasilitas yang kita berikan untuk anak, tidak akan mengena pada diri anak tanpa komunikasi yang benar dan efektif.

Terakhir, pendidikan moral dan agama dalam keluarga adalah benteng paling kokoh yang bisa dibangun orang tua. Konsep diri yang baik akan membantu anak mengenali mana yang baik dan buruk untuk dirinya. Konsep diri dan penanaman nilai adalah hal yang membutuhkan waktu panjang untuk dapat dibangun, maka selayaknya hal ini menjadi fokus utama orang tua dalam pengasuhan anak. Ketrampilan dan kecerdasan akademis adalah komponen tambahan yang meskipun sama pentingnya untuk kehidupan anak mendatang, namun bisa diberikan pada anak ketika anak-anak sudah siap menerimanya.


Teruslah belajar menjadi orang tua

Dalam proses pengasuhan, bukan hanya anak saja yang tumbuh dan berkembang, melainkan orang tuanya harus ikut naik kelas bersama dengan pertumbuhan anaknya. Orang tua pembelajar akan menghasilkan anak pembelajar. Jangan sampai jadi orang tua yang pingsan, yang tidak pernah mempersiapkan diri untuk menjadi orang tua, eh tiba-tiba dilamar orang dan nikah begitu saja, setelah itu terlanjur hamil dan lupa bahwa dengan memiliki anak artinya dia harus menanggung konsekuensi mengasuh dan mendidik anak seumur hidupnya. Harus ada kesiapan yang dibangun, bahkan sejak saat dirinya masih berstatus gadis dan perjaka.

Akhirnya, teknologi adalah bagian dari zaman ini. Melarang anak menggunakan perangkat teknologi sama sekali justru akan membuat dirinya tertinggal di zamannya, namun penggunaan secara tidak arif akan merusak dirinya dan perilakunya. Kita harus mengajarkan anak tentang bagaimana memanfaatkan perangkat teknologi agar membawa pengaruh positif bagi hidupnya. Teknologi memang memudahkan manusia di segala aspek kehidupannya, namun pilihlah jalan yang terbaik, bukan hanya yang termudah.

--------------------------------------------------------------------------------------------
Tulisan ini adalah catatan kecilku ketika mengikuti acara seminar "Being Creative Parents For Happier Children" yang diadakan oleh NUANSA di Fakultas Psikologi UGM pada tanggal 22 Mei 2016

2 komentar:

  1. maaf mau tnya seberapa besar pengaruh gadget,game,tv, pd anak dan bisa mengalami adhd?? apa penyebab adhd itu adlh gadget?

    BalasHapus